Menyambut Fajar Ilahi

Pada puncaknya para salihin akan berada di hadapan Realitas yang akan meleburkan apa pun yang mendekati-Nya. Pada titik tersebut, tidak ada bahasa apa pun yang bisa mengekspresikan Realitas itu kecuali ”keheningan”.

Dalam ”keheningan mutlak” itulah Dia mulai berbicara. Dia berkata dalam ”keheningan”, ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-qadr.…” Sang Realitas dengan misterius sekali telah merahasiakan apa pun hakikat yang Dia telah turunkan dalam bungkusan sebuah kata ganti, yaitu ”nya”. Continue reading

Please follow and like us:
0

Agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati ?

Santri                    : “Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!”

Gus Dur                : “Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang.”

Santri                    : “Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?” Continue reading

Please follow and like us:
0