Memaknai Indah dan Buruk

Kehidupan di dunia ini adalah proses panjang menciptakan mimpi indah dan menghindari mimpi buruk. Ya tidak dapat dipungkiri setiap manusia yang hidup di dunia pasti memimpikan kehidupan yang indah dan tidak ingin memimpikan sesuatu yang buruk. Continue reading

Please follow and like us:
0

Memaknai “Panjang Umur” dan “Bahagia Selalu”

C360_2014-04-12-20-06-25-153Menurut para Arif “panjang umur” sebaiknya tidak dimaknai lama hidup di dunia tetapi diartikan bahwa “panjang umur” hidup di dunia sampai di akhirat, sehingga memaknai hidup adalah mengabdi, sembahyang kepada Tuhan Pencipta diri..

Menurut para Arif “Bahagia Selalu” sebaiknya tidak diartikan bahagia disaat keinginan diri terpenuhi saja, tetapi “Bahagia Selalu” dimaknai selalu berbahagia atas kejadian apapun yang Tuhan inginkan kepada diri yang diciptakan. Continue reading

Please follow and like us:
0

Memaknai Kedekatan dengan Kesadaran

Kedekatan“KEDEKATAN”, dari segi RUANG begitu dekat, dari segi WAKTU begitu dekat, agar dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya tidak cukup hanya kedekatan dari segi “RUANG dan WAKTU saja, juga dibutuhkan kedekatan dalam “KESADARAN”, tanpa “KESADARAN” walaupun dari segi RUANG dan WAKTU begitu dekat, dapat pastikan mereka tidak dapat berkomunikasi.

Dan kalaupun dipaksa untuk berkomunikasi tanpa adanya “KESADARAN” maka dipastikan isi percakapan tidak terhubung antara satu dengan lainnya alias tidak nyambung. Continue reading

Please follow and like us:
0

Memaknai Ruang, Waktu dan Kesadaran

Memaknai Jarak Dekat dan Jauh sering dikaitkan dengan Ruang dan Waktu, 1 meter lagi sampai, atau 1 menit lagi sampai, itu bisa diartikan DEKAT apabila dikaitkan dengan Ruang dan Waktu, 30 km lagi sampai atau 1 jam lagi sampai, itu bisa diartikan JAUH apabila dikaitkan dengan Ruang dan Waktu.

Sedangkan Dekat dan Jauh dalam memaknai kedekatkan dengan Tuhan tidak bisa dikaitkan dengan Ruang dan Waktu tetapi ke-SADAR-an. Continue reading

Please follow and like us:
0

Peng-aku-an sindrome

Salah satu parameter munculnya hati kecewa, resah, gelisah disebabkan butuhnya pengakuan dari orang lain, dimana harapan pengakuan dari orang tersebut tidak kunjung keluar dari mulutnya, padahal apa yang telah dilakukakannya telah mengorbankan jiwa dan raga.

Dari segi nalar perbuatan tersebut adalah bentuk “ego” diri, karena apa yang telah dilakukannya, orang lain dipaksa harus mengakuinya, padahal diri sendiri dengan diri orang lain jelas berbeda, sehingga tidak boleh ada paksaan satu sama lainnya. Continue reading

Please follow and like us:
0