Menyambut Fajar Ilahi

Pada puncaknya para salihin akan berada di hadapan Realitas yang akan meleburkan apa pun yang mendekati-Nya. Pada titik tersebut, tidak ada bahasa apa pun yang bisa mengekspresikan Realitas itu kecuali ”keheningan”.

Dalam ”keheningan mutlak” itulah Dia mulai berbicara. Dia berkata dalam ”keheningan”, ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam al-qadr.…” Sang Realitas dengan misterius sekali telah merahasiakan apa pun hakikat yang Dia telah turunkan dalam bungkusan sebuah kata ganti, yaitu ”nya”.

Kemudian, Dia mulai menceritakan tentang malam al-qadr, sebuah selimut kegelapan yang sama sekali tidak bisa digarap dan dimengerti, ”wa ma adraka ma laylatul qadr….” Kegelapan misterius itu adalah kebaikan yang lebih baik dari seribu bulan. Melimpah.

Sebenarnya kegelapan malam adalah rahasia yang jauh dari persepsi lahiriah manusia. Namun, dalam rahasia itu terkandung sebuah rahasia lagi. Rahasia dalam rahasia inilah yang tidak dimengerti oleh banyak manusia. Ketika Dia menyatakan, ”Kami telah menurunkannya…”, sudah tentu Dia bermaksud menurunkan ”nya” itu kepada manusia-manusia terpilih atau yang sudah siap untuk menerimanya.

”Turun” atau ”al-inzal” dalam perspektif tasawuf adalah tajali, yaitu ”manifestasi” atau ”disclosure”. Sesuatu yang tersembunyi disingkapkan untuk manusia terpilih itu. Dan, penyingkapan itu terjadi dalam batin manusia yang terisyarat dengan kata ”malam”. Manifestasi ”rahasia” itu telah mentransformasi batin manusia menjadi baik.

Rahasia itu tidak akan turun ke dalam batin yang tidak pantas menerimanya. Kata ”al-qadr” sebenarnya mengisyaratkan kepada batin yang mulia. Nilai ini tak akan diketahui kecuali di dalam kegelapan malam, batin manusia.

”Al-qadr” juga bisa dimaknai sebagai ”al-qudrah”, yaitu kekuatan. Namun, jika ”rahasia” itu diturunkan kepada gunung, sudah tentu gunung itu akan hancur lebur karena tidak kuat dan tidak mampu menjadi wadah rahasia itu

Batin yang menyelubungi rahasia itu adalah lebih baik daripada seribu bulan karena kesadaran itu tidak pernah terpisah dari kebaikan. Kesadaran itu begitu tinggi dan luas sehingga kebaikannya tidak bisa dijangkau manusia dengan secara biasa. Dalam batin manusia itu para malaikat turun menampakkan keindahan mereka pada manusia tersebut. Bersama dengan para malaikat, sang roh juga menampakkan dirinya. Semua ini terjadi dengan izin sang Tuhan. Ini berarti bahwa batin manusia itu berada dalam alam malaikat ”celestial” dan juga ”terrestrial”.

Batin manusia ini adalah batin yang ”salam”, sejahtera, dan tenang, sama sekali tidak terkontaminasi dengan kecacatan. Kesejahteraan dan ketenangan ini akan memenuhi malam tersebut sampai terbit fajar. Ini berarti bahwa batin manusia yang sadar itu akan berada dalam keadaan sejahtera dan tenang hingga kedatangan Matahari Kebenaran, yaitu Tuhan dengan segala keindahan ilahiah.

Batin manusia akan menjadi mulia atau menjadi ”laylatul qadr” pada bulan Ramadhan. Sementara itu, bulan Ramadhan untuk para sufi adalah momen-momen terbakarnya jiwa manusia dengan cahaya Ilahi.

Kebakaran ini akan terjadi pada saat manusia ”berpuasa”. Puasa dalam perspektif tasawuf adalah ”al-imsak”, yaitu menahan diri dari segala ungkapan dan perbuatan dan gerak dan diam yang tidak ”bi l-Haq” dan ”li l-Haq”. Dengan kata lain, berpuasa bagi para sufi adalah menahan diri dari dikuasai dan didominasi daya nafsu individualis. Menahan diri dari pembicaraan, perbuatan dan tindakan, gerakan dan diam yang berasal dari diri individualis.

Ini berarti, manusia harus menahan dirinya dari dirinya sendiri. Ia membiarkan ungkapan, perbuatan, dan gerakan mengalir dari Tuhan, terjadi dengan Tuhan, dan untuk Tuhan sekaligus menuju kepada Tuhan. Berpuasa dalam pengertian inilah yang akan mentransformasikan batin manusia menjadi “laylatul qadr”. Pada saat dia menjadi “laylatul qadr”, semuanya akan terealisasi.

Batin yang sudah menjadi ”laylatul qadr” adalah batin yang sejahtera dan tenang, penuh dengan kesadaran dan kebijaksanaan. Batin seperti ini akan bisa menyebarkan kesejahteraan kepada sekitarnya dan membawa ketenangan ke dalam jiwa-jiwa yang mendekatinya serta memberi kebijaksanaan dan hikmah kepada yang mencarinya.

Jumat, 26 Agustus 2011

Muhammad Baqir Wakil Direktur Sophia Institute, Pengajar Tasawuf di Universitas Paramadina.

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *