Segala itu bisa dimaknai seluruh, semua, tidak sebagian atau tidak setengah setengah

Segala itu bisa dimaknai seluruh, semua, tidak sebagian atau tidak setengah setengah, sehingga memaknai “segala” puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, dimaknai semua, seluruh puji hanya bagi Allah, sehingga apabila diri ingin dipuji adalah alur logika yg tidak tepat, padahal Allah lah yang menciptakan mu dan segala upayamu.

Mengucapkan Alhamdulillah karena mendapat pujian dari orang lain dimaknai meluruskan bahwa segala puji bukan untuk diri tapi segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Bukan memaknai Alhamduillah dari makna kedaerahaan atau tradisi tanpa makna dan arti, sehingga membenarkan terwujudnya sesuatu karena diri dan melahirkan atau menimbulkan rasa bangga dan menyombongkan diri..

Rasa diri ingin dipuji dpt diibaratkan “pulpen yang mengaku menulis”..

Please follow and like us:
0

Membersihkan diri

Mana mungkin terasa kopi kalau digelas ada cicak, kecoak + bekas susu+sirup, maka cuci dulu gelasnya kemudian keringkan gelasnya lalu isi air panas+kopi mix maka jadilah kopi yang nikmat.

Sakit hati, iri & dengki, merasa paling.. adalah ibarat kecoak+cicak dalam cangkir kopi, sehingga kopi tidak terasa enak dan menyebabkan gangguan pencernaan & jiwa,

Sehingga kalau beragama malah semakin arogan malah muncul keangkuhan dan kesombongan serta merasa paling, merasa sudah, itu menandakan cangkirnya belum bersih keburu kemasukan kopi. Demikian perumpaan yang patut dipikirkan..

 

Please follow and like us:
0

Cinta, Love, Ma…

Cinta, Love, Mahabah

Cinta itu adalah realitas dalam diri karena tidak dapat di indra oleh mata tapi terasa oleh bathin, sehingga menjadi pekerjaan hati dan pikiran, sangat terasa disaat jatuh cinta, membuat diri kadang tersenyum, tertawa dan menangisi sesuatu yang tidak dapat di indra tapi nyata dalam diri..

Begitu pula dengan perkara gaib adalah realitas dalam diri karena tidak dapat di indra oleh mata tapi dapat di indra oleh mata bathin, dan “RASA” pun termasuk perkara gaib karena tidak dapat di indra oleh mata, tapi sangat jelas terasa oleh bathin. Untuk itu kalimat “damai di mata” itu kurang tepat, tapi “damai di hati” itu yang pas.

Dan menurut orang mukim, kalimat “ALLAH itu Nyata serta dapat dilhat (realita)”, itu adalah benar adanya.

Please follow and like us:
0

Masalah ?

problemMunculnya pemikiran tentang pertanyaan “stress dalam menghadapi masalah, siapakah yang patut disalahkan ?” ketika berdiskusi dengan teman-teman di facebook distatusku yang aku tulis kemarin 24/5/2014 yang mana kalimat statusnya :

“ayeuna meunang masalah, tingali isuk pageto bakal manggihan deui masalah leuwih gede deui.. ” itulah seni hidup.

(sekarang mendapat masalah, lihat besok atau lusa akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi, dan itulah seni hidup).

Continue reading

Please follow and like us:
0