Tujuan Manusia

hiking_desertApabila manusia melakukan sesuatu, ia selalu melakukannya karena ada tujuannya. Fakta bahwa apa pun yang dilakukan manusia selalu dilakukannya demi sebuah tujuan.  Sebagai contoh adalah melakukan suatu aktifitas sehari-hari seperti bekerja, kuliah, bermain, hingga berkata bohong atau hendak menipu orang selalu melakukannya karena ada suatu maksud dan tujuan. Bekerja untuk mendapatkan uang, kuliah agar mendapatkan ilmu, dan seterusnya.

Apabila manusia mau mengatur kehidupannya secara nalar, maka pertanyaan kunci baginya adalah, Apakah tujuan manusia ? Setiap tindakan yang mengarah ke pencapaian tujuan itu masuk akal, dan setiap tindakan yang tidak menunjang tercapainya tujuan manusia itu tidak masuk akal. HIdup kita akan terarah apabila kita melakukannya sedekian rupa hingga tercapainya tujuan tersebut.

Terdap dua macam tujuan :

  1. Tujuan Sementara
  2. Tujuan Akhir

Tujuan sementara hanyalah sarana untuk pelengkap tujuan lebih lanjut. Misalnya, orang mengikuti kuliah dengan tujuan ingin lulus dan mendapat ijazah, tetapi ijazah itu bukan tujuan pada dirinya, melainkan sekedar sarana, msalnya untuk dapat memperoleh tempat kerja yang lebih memadai. Tempat kerja itu sendiri hanya tujuan sementara, karena kalau kita bekerja, tentu kita punya tujuan, bisa karena mencari nafkah untuk hidup, bisa karena mau mengembangkan diri, dan sebagainya.

Tetapi apakah ada suatu tujuan yang merupakan tujuan akhir, yang tidak kita cari demi tujuan lebih lanjut, Tujuan terakhir mestinya seesuatu yang apabila tercapai, tidak ada lagi yang masih diminati selebihnya, tetapi selama belum tercapai, manusia belum akan puas dan tetap masih mencari, apa tujuan terakhir terakhir itu ? yaitu kebahagiaan, kalau seseorang sudah bahagia, tidak ada yang masih diinginkan selebihnya.

Untuk mendapatkan makna kebahagian yang tepat haruslah sesuatu yang apabila mendapatkannya tidak membutuhkan yang lainnya lagi, dalam hal ini semua agama pasti menyetujui bahwa Tuhan adalah kebahagian puncak terakhir yang tidak ada lagi kebahagiaan yang lain setelahnya. Sebagai contoh Manusia yang beragama menata hidupnya dengan tujuan untuk semakin bebas dari keresahan batin dan mendapatkan ketenangan jiwa yaitu menemukan diri untuk “sampai” kepada Tuhannya.

Kesalahan dalam menempatkan sesuatu sebagai tujuan akhir menyebabkan kebahagian tidak tercapai, sebagai contoh tujuan akhir yang salah yaitu uang, uang atau kekayaan tentu hanyalah sarana untuk bisa bebas dari kekurangan dan untuk lebih menguasai hidupnya sendiri serta untuk dengan gampang memenuhi segala kebutuhan. Jadi uang atau kekayaan merupakan sarana semata-mata dan bukan tujuan akhir dirinya, sehingga uang atau kekayaan tidak menjamin kebahagiaan. Maka, orang yang mengarahkan seluruh hidupnya pada kekayaan justru tidak mencapai tujuannya. Ia justru tidak akan bahagia.

Selanjutnya hal yang perlu diperhatikan bahwa kebahagiaan tidak bisa langsung diusahakan. Kebahagian itu bukan semacam sasaran yang bias langsung kita bidik. Kebahagiaan adalah sesuatu yang lebih berifat “diberikan” atau bonus. Kebahagian akan didapat apabila kita menjalani hidup yang menunjangnya. Hidup itulah yang bisa dan perlu kita usahakan, bukan kebahagiaan itu sendiri. Malah bisa dikatakan bahwa orang yang dalam selaga-galanya ingin menjadi bahagia, justru tidak pernah akan bahagia, karena ia tidak mampu untuk mengusahakan kebaikan demi kebaikan itu sendiri. Ia selalu melirik ke kebahagiaanya sendiri tanpa mengupayakan suatu usaha untuk mencapai kebahagiaan tersebut.

Maka, pertanyaan kunci adalah, hidup macam apa yang harus diusahakan agar sampai kepada kebahagiaan (Tuhan) ? yaitu bermoral atau berahlaq sesuai dengan tuntunan atau wahyu Tuhan, sehingga sangat tidak mungkin seorang manusia sampai kepada Tuhan tanpa bermoral atau berahlaq yang mulia. Sehingga manusia yang memiliki tujuan akan mengupayakan atau mengusahakan suatu perbuatan atau tindakan yang bermoral dan berahlaq agar dirinya bisa sampai kepada Tuhan tentunya didukung oleh sarana-sarana lainnya seperti uang, dan lainnya, sampai diri mencapai puncak kebahagiaan yang hakiki bersama Tuhan, maka hilanglah diri yang ada hanya kebahagiaan.

Sumber  : Buku “Menjadi manusia yang utuh”, filsafat Aristoteles dihubungkan dengan ke-Tuhanan (Tauhid).

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *